Kapten Kapal Feri Mengentotku Dengan Nikmat

Kapten Kapal Feri Mengentotku Dengan Nikmat

Aku adalah seorang gadis dari Kawanua, sebut saja namaku Inge, aku anak pertama dari 6 bersaudara dan aku satu-satunya anak perempuan. Kehidupan ekonomi keluargaku bisa dibilang mencemaskan. Beruntung aku bisa tamat SMA, ini karena aku mendapat beasiswa dari Yayasan Super Semar

Aku sedih melihat keadaan keluargaku, ayahku adalah seorang Pegawai Negeri golongan II, ibuku hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga yang tidak mempunyai skill, kerjanya hanya mengurus putra-putrinya. Rasanya aku ingin membantu ayah, mencari uang. Tapi apalah daya aku hanya lulusan sekolah menengah, namun begitu kucoba untuk melamar kerja di perusahaan yang ada di kota Manado. Hasilnya nihil, tak satupun perusahaan yang menerima lamaranku. Aku mahfum, disaat krisis sekarang ini banyak PT yang jatuh bangkrut, kalaupun ada PT yang bertahan itu karena mem-PHK sebagian karyawannya.

Lalu aku berpikir, kenapa aku tidak ke Jakarta saja, kata orang di Ibukota banyak lowongan pekerjaan, dan aku teringat tetanggaku Mona namanya, dia itu katanya sukses hidup di Jakarta, terbukti kehidupan keluarganya meningkat drastis. Dahulu kehidupan keluarga Mona tidak jauh berbeda dengan keadaan keluargaku, pas-pasan. Tapi sejak Mona merantau ke Jakarta, ekonomi keluarganya makin lama makin berubah. Bangunan rumah Mona kini sudah permanen, isi perabotnya serba baru, dari kursi tamu, tempat tidur semuanya mewah, juga TV 29″ antena parabola dan VCD mereka miliki. Aku ingin seperti Mona, toh dia juga hanya tamatan SMA. Kalau dia bisa kenapa aku tidak? Aku harus optimis.

Pada suatu hari di bulan September, tahun 1998 aku pamit kepada keluargaku untuk merantau ke Jakarta. Meskipun berat papa dan mama merelakan kepergianku. Dengan bekal uang Rp 75.000 dan tiket kelas Ekonomi hasil hutang papaku di kantor, aku akhirnya meninggalkan desa tercinta di Kawanua. Dari desa aku menuju pelabuhan Bitung, aku harus sudah sampai di pelabuhan sebelum pukul 6 sore karena KM Ciremai jurusan Tg.Priok berangkat jam 19:00 WIT, waktu satu jam tentu cukup untuk mencari tempat yang nyaman. Karena tiketku tidak mencantumkan nomor seat, maklum kelas ekonomi, aku berharap mendapat lapak untuk menggelar tikar ukuran badanku. Tapi sial, angkutan yang menuju pelabuhan begitu terlambat, pada waktu itu jam sudah menunjuk pukul 18:45. Waktuku hanya 15 menit. Ternyata KM.Ciremai sudah berlabuh, aku melihat hiruk pikuk penumpang berebut menaiki tangga, aku tergolong calon penumpang yang terakhir, dengan sisa-sisa tenagaku, aku berusaha lari menuju KM.Ciremai, aku hanya menggendong tas punggung yang berisi pakaian 3 potong.

Aku sudah berada di dek kapal kelas ekonomi, tapi hampir semua ruangan sudah penuh oleh para penumpang. Keringat membasahi seluruh tubuhku, ruangan begitu terasa pengap oleh nafas-nafas manusia yang bejibun. Aku hanya bisa berdiri di depan sebuah kamar yang bertuliskan Crew, di sekitarku terdapat seorang Ibu tua bersama 2 orang anak laki-laki usia sekolah dasar. Mereka tiduran di emperan tapi kelihatannya mereka cukup berbahagia karena dapat selonjoran. Aku berusaha mencari celah ruang untuk dapat jongkok. Aku bersyukur, Ibu Tua itu rupanya berbaik hati karena bersedia menggeserkan kakinya, kini aku dapat duduk, tapi sampai kapan aku duduk kuat dengan cara duduk begini. Sedangkan perjalanan memakan waktu 2 hari 2 malam.

Cerita Sex Akibat Aku Kehilangan Tiket Di Kapal Ciremai – Tidak lama kemudian KM.Ciremai berangkat meninggalkan pelabuhan Bitung, hatiku sedikit lega, dan aku berdoa semoga perjalanku ini akan mengubah nasib. Tak sadar aku tertidur, aku sedikit terkejut sewaktu petugas menanyakan tiket, aku ingat tiketku ada di dalam tas punggungku. Tapi apa lacur, tasku raib entah dimana, aku panik, aku berusaha mencari dan bertanya kepada Ibu tua dan anak laki-lakinya, tapi mereka hanya menggelengkan kepala.

“Cepat keluarkan tiketmu..” ujar seorang petugas sedikit menghardik.
“Aku kehilangan tas, tiket dan uangku ada di situ..” jawabku dengan sedih.
“Hah, bohong kamu, itu alasan kuno, bilang aja kamu tak membeli tiket, Ayo ikut kami ke atas,” bentak petugas yang bertampang sangar.

Akhirnya aku dibawa ke dek atas dan dihadapkan kepada atasan petugas tiket tadi.
“Oh.. ini orangnya, berani-beraninya kamu naik kapal tanpa tiket,” kata sang atasan tadi.
“Tiketku hilang bersama pakaianku yang ada di tas, saya tidak bohong Pak, tapi benar-benar hilang..”
“Bah itu sih alasan klasik Non, sudah ratusan orang yang minta dikasihani dengan membuat alasan itu.” ucapnya lagi.
“Kalau Bapak tak percaya ya sudah, sekarang aku dihukum apapun akan aku lakukan, yang penting aku sampai di Jakarta.”
“Bagus, itu jawaban yang aku tunggu-tunggu..” ujar lelaki berseragam putih-putih itu.
Kalau kutaksir mungkin lelaki tersebut baru berusia 45 tahun, tapi masih tegap dan atletis, hanya kumis dan rambutnya yang menonjolkan ketuaannya karena agak beruban.

“Tapi ingat kamu sudah berjanji, akan melakukan apa saja..” ujar lelaki itu, seraya menunjukkan jarinya ke jidatku.
“Sekarang kamu mandi, biar tidak bau, tuh handuknya dan di sana kamar mandinya..” sambil menunjuk ke arah kiri.
Betapa girang hatiku, diperlakukan seperti itu, aku tidak menyangka lelaki itu ternyata baik juga. Betapa segarnya nanti setelah aku mandi.
“Terima kasih Pak,” ujarku seraya memberanikan diri untuk menatap wajahnya, ternyata ganteng juga.
“Jangan panggil Pak, panggil aku Kapten..” tegasnya.
Aku sempat membaca namanya yang tertera di baju putihnya. “Kapten Jonny” itulah namanya.

Aku sekarang sudah berada di kamar mandi.
“Wah, betapa wanginya tuh kamar mandi,” gumamku nyaris tak terdengar. Kunyalakan showernya maka muncratlah air segar membasahi tubuhku yang mulus ini, kugosok-gosokan badanku dengan sabun, kuraih shampo untuk mencuci rambutku yang sempat lengket karena keringat.

Sepuluh menit kemudian aku keluar dari kamar mandi, aku bingung untuk bersalin pakaian, aku harus bilang apa kepada Sang Kapten. “Wah cantik juga kamu,” tiba-tiba suara itu mengejutkan diriku. Dan yang lebih mengejutkan adalah pelukan Sang Kapten dari arah belakang. Aku hanya terdiam, “Siapa namamu, Sayang?” bisiknya mesra. “Inge..” jawabku lirih. Aku tidak berusaha berontak, karena aku ingat akan janjiku tadi. Karena aku diam tak berreaksi, maka tangan Sang Kapten makin berani saja menjelajahi dadaku dan menciumi leher serta telingaku. Aku menggelinjang, entah geli atau terangsang, yang pasti sampai usiaku 19 tahun aku belum pernah merasakan sentuhan lelaki. Bukannya tidak ada lelaki yang naksir padaku, ini karena sikapku yang tidak mau berpacaran. Banyak teman sekelas yang berusaha mendekatiku, selain lumayan cantik, aku juga tergolong pandai, makanya aku mendapat beasiswa. Maka tak heran banyak lelaki di sekolahku yang berusaha memacariku, tapi aku cuek, alias tidak merespon.

“Ooohh.. jangan Kapten.” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku ketika pria separuh baya itu menyentuh barang yang amat berharga bagi wanita, bulu-bulu lembut yang tumbuh di sekitar vaginaku dielusnya dengan lembut, sementara handuk yang melekat di tubuhku sudah jatuh ke lantai. Dan aku pun tahu bahwa lelaki ini sudah bertelanjang bulat.

Aku merasakan benda kenyal yang mengeras menyentuh pantatku, nafas hangat dan wangi yang memburu terus menjelajahi punggungku, tangannya yang tadi mengelus vaginaku sekarang meremas-remas kedua payudaraku yang ranum, ini membuat dadaku membusung dan mengeras. Aku tak percaya, tangan lelaki ini seolah mengandung magnet, karena mampu membangkitkan gairah yang tak pernah kurasakan seumur hidupku.

“Ooohh.. aahh..” hanya desahan panjang yang dapat kuekspresikan bahwa diriku berada dalam libido yang betul-betul mengasyikan.
“Inge kau betul-betul lugu, pegang dong batangku,” kata Kapten Jonny, seraya meraih tanganku dan menempelkannya ke batang zakarnya yang keras tapi kenyal.
“Jangan diam saja, remaslah, biar kita sama-sama enak..” ujarnya lagi.

Akhirnya walaupun aku sebelumnya tidak pernah melakukan senggama, naluriku seolah membimbing apa yang harus kuperbuat apabila bercumbu dengan seorang laki-laki. Akhirnya aku berbalik, kuraih batang kemaluannya kuremas dan kukocok-kocok, sampai kumainkan biji pelirnya yang licin.Sang Kapten mendesah-desah, “Ooohh.. aachh.. enak sekali Sayang, teruskan.. oh teruskan..” sambil matanya terpejam-pejam. Aku jongkok, tanpa ragu kujilat dan kukulum torpedo Sang kapten, sampai terbenam ke tenggorokanku.

Aku benar-benar menikmatinya seperti menikmati es Jolly kesukaanku di waktu kecil dulu. Aku tak peduli erangannya, kusedot, kusedot dan kusedot terus, sampai akhirnya zakar Sang Kapten yang panjangnya hampir 12 centi itu memuncratkan cairan hangat ke mulutku yang mungil. “Aaahh.. aku sudah tak kuat Inge,” gumamnya. Betapa nikmatnya cairan spermanya, sampai tak sadar aku telah menelan habis tanpa tersisa, ini membuat seolah Sang Kapten tak mampu untuk tegak berdiri. Dia bersandar di dinding kapal apalagi gerakan kapal sekarang ini sudah tak beraturan kadang bergoyang kekiri kadang kekanan.

“Kamu betul-betul hebat Inge,” puji Kapten Jonny sambil mencium bibirku.
“Inge jangan kau anggap aku sudah kalah, tunggu sebentar..”
Dia bergegas menuju lemari kecil, lantas mengambil sesuatu dari botol kecil dan menelannya lantas membuka kulkas dan mengambil botol minuman sejenis Kratingdaeng.

“Sini Sayang..” ujar sang kapten memanggilku mesra.
“Istirahat dulu kita sebentar, ambillah minuman di kulkas untukmu,” lanjut Kapten Jonny.
Kubuka kulkas dan kuraih botol kecil seperti yang diminum Kapten Jonny. Aku meminumnya sedikit demi sedikit, “Ooohh.. sedap sekali minuman ini.. aku tak pernah merasakan betapa enaknya.. minuman apa ini.” Ternyata label minuman ini tertulis huruf-huruf yang aku tak paham, mungkin aksara China, mungkin Jepang mungkin juga Korea. Ah persetan.. yang penting tenggorokanku segar.

“Kau berbaringlah di di situ,” pinta Kapten Jonny sambil menunjuk tempat tidurnya yang ukurannya tidak begitu besar. Kurebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk dan membal. Kulihat jam dinding sudah menunjuk pukul 12 malam. Aku heran mataku tak merasa ngantuk, padahal biasanya aku sudah tidur sebelum pukul 22:00. Aku sengaja tidak menggunakan selimut untuk menutupi tubuhku, kubiarkan begitu saja tubuhku yang polos, barangkali ini akan membangkitkan gairah libido Sang Kapten yang tadi sudah down. Aku berharap semoga Sang Kapten akan terangsang melihat dadaku yang sengaja kuremas-remas sendiri.

Sang Kapten sudah bangkit dari kursi santainya, dia menenggak sebotol lagi minuman sejenis Kratindaeng. Dia sudah berada di tepi ranjang, sekarang dia mulai mengelus-elus kakiku dari ujung jari merambat ke atas dan berhenti lama-lama di pahaku, mengusap-usap dan menjilatinya, dan sekarang lidahnya sudah berada di mulut vaginaku. “Ooohh.. geli..”

Sejurus kemudian lidahnya dijulurkan dan menyapu permukaan bibir vaginaku. Pahaku sengaja kulebarkan, hal ini membuat Sang Kapten bertambah buas dan liar, diseruputnya klitorisku. “Ooohh.. aahh.. teruskan Kapten, lanjutkan Kapten.. Ooohh.. nikmat sekali Kapten..” Tangannya tidak tinggal diam, diraihnya kedua payudaraku, diremasnya dan tak lupa memelintir putingku dengan mesra.

“Ooohh.. aku sudah tak tahan Kapten..” desisku.
“Tahan Sayang.. tahan sebentar.. biarkan aku menikmati vaginamu yang wangi ini.. aku tak pernah merasakan wanginya vagina dari wanita lain..”
“Sruupp.. sruupp.. sruupp..” Terus saja mulut Kapten Jonny dengan rajinnya menjelajah bagian dalam vaginaku yang sudah empot-empotan ini akibat rangsangan yang amat tinggi.

“Sudah Kapten.. lekas masukkan batang zakarmu, aku sudah tidak tahan..”
“Baik, rasakanlah Sayang.. betapa nikmatnya rudalku ini..”
“Tapi pelan-pelan Kapten, aku benar-benar masih perawan..”
“Oke, aku melakukannya dengan hati-hati..” janji Kapten Jonny.
“Buka lebar pahamu, Inge..” saran Kapten Jonny.
Dan..

“Blleess..”
“Ooohh.. aahh..” desisku, padahal zakar itu baru masuk tiga perempatnya.
“Bles.. bless..”
“Ooohh..” erangku panjang, aku tahu batang sepanjang 12 centi itu sudah merusak selaput daraku.
Ditariknya lagi rudalnya, lantas dimasukannya lagi seirama dengan goyangan KM.Ciremai oleh ombak laut.

“Bless.. bless.. bless..”
“Ooohh.. oohh.. oohh.. aahh.. aahh..”
“Aku mau keluar Kapten,” ujarku memberi tahu Kapten Jonny.
“Tahan Sayang.. sebentar.. aku juga ingin keluar, sekarang kita hitung sampai tiga. Satu.. dua.. tiga..”
“Crott.. crott.. crot..” sperma Kapten Jonny membasahi gua gelap vaginaku. Betapa hangat dan nikmatnya air manimu Jonny. Hal ini memancing cairanku ikut membanjiri kemaluanku sampai meluber ke permukaan.

Cerita Sex Akibat Aku Kehilangan Tiket Di Kapal Ciremai – Kami berdua terkulai lemas, tapi Kapten Jonny sempat meraba bibir kemaluanku dan jarinya seolah mencungkil sesuatu dari vaginaku, ternyata dia menunjukkan cairan merah kepadaku, dan ternyata adalah darah perawanku. Dijilatnya darah sambil berkata, “Terima kasih Inge, kamu betul-betul perawan..” Aku hanya menangis, menangisi kenikmatan yang sama sekali tak kusesalkan. Aktivitas senggama ini berlangsung kembali sampai matahari muncul. Lantas aku tidur sampai siang, makan, tidur dan malamnya kami melakukannya lagi berulang-ulang seolah tiada bosan.

Akhirnya Pelabuhan Tanjung Priok sudah berada di pelupuk mataku. Sebelum turun dari kapal aku dibelikan baju baru, dan dibekali uang yang cukup.
Selamat tinggal Kapten.. selamat tinggal Ciremai..

Aku ialah seorang gadis dari Kawanua, sebut saja namaku Inge, aku anak kesatu dari 6 bersaudara dan aku satu-satunya anak perempuan. Kehidupan ekonomi keluargaku dapat dibilang mencemaskan. Beruntung aku dapat tamat SMA, ini sebab aku mendapat beasiswa dari Yayasan Super Semar

Aku kecil hati melihat suasana keluargaku, ayahku ialah seorang Pegawai Negeri kelompok II, ibuku hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga yang tidak memiliki skill, kerjanya melulu mengurus putra-putrinya. Rasanya aku hendak membantu ayah, menggali uang. Tapi apalah daya aku melulu lulusan sekolah menengah, tetapi begitu kucoba guna melamar kerja di perusahaan yang terdapat di kota Manado. Hasilnya nihil, tak satupun perusahaan yang menerima lamaranku. Aku mahfum, disaat krisis kini ini tidak sedikit PT yang jatuh bangkrut, kalaupun terdapat PT yang bertahan tersebut karena mem-PHK beberapa karyawannya.

Lalu aku berpikir, mengapa aku tidak ke Jakarta saja, kata orang di Ibukota tidak sedikit lowongan pekerjaan, dan aku terkenang tetanggaku Mona namanya, dia tersebut katanya berhasil hidup di Jakarta, terbukti kehidupan keluarganya bertambah drastis. Dahulu kehidupan family Mona tidak jauh bertolak belakang dengan suasana keluargaku, pas-pasan. Tapi semenjak Mona merantau ke Jakarta, ekonomi keluarganya kian lama kian berubah. Bangunan lokasi tinggal Mona sekarang sudah permanen, isi perabotnya serba baru, dari kursi tamu, lokasi tidur semuanya mewah, pun TV 29″ antena parabola dan VCD mereka miliki. Aku hendak seperti Mona, toh dia juga melulu tamatan SMA. Kalau dia dapat kenapa aku tidak? Aku mesti optimis.

Pada sebuah hari di bulan September, tahun 1998 aku pamit untuk keluargaku guna merantau ke Jakarta. Meskipun berat papa dan mama merelakan kepergianku. Dengan bekal duit Rp 75.000 dan tiket ruang belajar Ekonomi hasil hutang papaku di kantor, aku kesudahannya meninggalkan desa tersayang di Kawanua. Dari desa aku mengarah ke pelabuhan Bitung, aku mesti telah sampai di pelabuhan sebelum pukul 6 sore sebab KM Ciremai jurusan Tg.Priok berangkat jam 19:00 WIT, masa-masa satu jam tentu lumayan untuk menggali tempat yang nyaman. Karena tiketku tidak menyematkan nomor seat, maklum ruang belajar ekonomi, aku bercita-cita mendapat lapak untuk melangsungkan tikar ukuran badanku. Tapi sial, angkutan yang mengarah ke pelabuhan begitu terlambat, pada waktu tersebut jam telah menunjuk pukul 18:45. Waktuku melulu 15 menit. Ternyata KM.Ciremai telah berlabuh, aku menyaksikan hiruk pikuk penumpang berebut menaiki tangga, aku termasuk calon penumpang yang terakhir, dengan sisa-sisa tenagaku, aku berjuang lari mengarah ke KM.Ciremai, aku melulu menggendong tas punggung yang mengandung pakaian 3 potong.

Aku telah berada di dek kapal ruang belajar ekonomi, tapi nyaris semua ruangan sudah sarat oleh semua penumpang. Keringat mengairi seluruh tubuhku, ruangan begitu terasa pengap oleh nafas-nafas insan yang bejibun. Aku hanya dapat berdiri di depan suatu kamar yang bertuliskan Crew, di sekitarku ada seorang Ibu tua bareng 2 orang anak laki-laki umur sekolah dasar. Mereka tiduran di emperan namun kelihatannya mereka lumayan berbahagia sebab dapat selonjoran. Aku berjuang mencari celah ruang guna dapat jongkok. Aku bersyukur, Ibu Tua tersebut rupanya berbaik hati karena mau menggeserkan kakinya, sekarang aku bisa duduk, tapi hingga kapan aku duduk powerful dengan teknik duduk begini. Sedangkan perjalanan memakan masa-masa 2 hari 2 malam.

Cerita Sex Akibat Aku Kehilangan Tiket Di Kapal Ciremai – Tidak lama lantas KM.Ciremai berangkat meninggalkan pelabuhan Bitung, hatiku tidak banyak lega, dan aku berdoa semoga perjalanku ini akan mengolah nasib. Tak sadar aku tertidur, aku tidak banyak terkejut sewaktu petugas menanyakan tiket, aku ingat tiketku terdapat di dalam tas punggungku. Tapi apa lacur, tasku raib entah dimana, aku panik, aku berjuang mencari dan bertanya untuk Ibu tua dan anak laki-lakinya, namun mereka melulu menggelengkan kepala.

“Cepat keluarkan tiketmu..” ujar seorang petugas tidak banyak menghardik.
“Aku kehilangan tas, tiket dan uangku terdapat di situ..” jawabku dengan sedih.
“Hah, bohong kamu, itu dalil kuno, bilang aja anda tak melakukan pembelian tiket, Ayo ikut kami ke atas,” bentak petugas yang bertampang sangar.

Akhirnya aku diangkut ke dek atas dan dihadapkan untuk atasan petugas tiket tadi.
“Oh.. ini orangnya, berani-beraninya anda naik kapal tanpa tiket,” kata sang atasan tadi.
“Tiketku hilang bareng pakaianku yang terdapat di tas, saya tidak bohong Pak, namun benar-benar hilang..”
“Bah tersebut sih dalil klasik Non, telah ratusan orang yang mohon dikasihani dengan membuat dalil itu.” ucapnya lagi.
“Kalau Bapak tak percaya ya sudah, kini aku dihukum apapun bakal aku lakukan, yang urgen aku hingga di Jakarta.”
“Bagus, tersebut jawaban yang aku tunggu-tunggu..” ujar pria berseragam putih-putih itu.
Kalau kutaksir mungkin pria tersebut baru berusia 45 tahun, namun masih tegap dan atletis, melulu kumis dan rambutnya yang menonjolkan ketuaannya sebab agak beruban.

“Tapi ingat anda sudah berjanji, akan mengerjakan apa saja..” ujar pria itu, seraya mengindikasikan jarinya ke jidatku.
“Sekarang anda mandi, biar tidak bau, tuh handuknya dan di sana kamar mandinya..” seraya menunjuk ke arah kiri.
Betapa girang hatiku, diperlakukan laksana itu, aku tidak menduga lelaki tersebut ternyata baik juga. Betapa segarnya nanti sesudah aku mandi.
“Terima kasih Pak,” ujarku sambil memberanikan diri guna menatap wajahnya, ternyata ganteng juga.
“Jangan panggil Pak, panggil aku Kapten..” tegasnya.
Aku sempat menyimak namanya yang tercantum di baju putihnya. “Kapten Jonny” itulah namanya.

Aku kini sudah sedang di kamar mandi.
“Wah, alangkah wanginya tuh kamar mandi,” gumamku hampir tak terdengar. Kunyalakan showernya maka muncratlah air segar mengairi tubuhku yang mulus ini, kugosok-gosokan badanku dengan sabun, kuraih shampo untuk membasuh rambutku yang sempat lengket sebab keringat.

Sepuluh menit lantas aku terbit dari kamar mandi, aku bingung guna bersalin pakaian, aku mesti bilang apa untuk Sang Kapten. “Wah cantik pun kamu,” tiba-tiba suara tersebut mengejutkan diriku. Dan yang lebih mengejutkan ialah pelukan Sang Kapten dari arah belakang. Aku melulu terdiam, “Siapa namamu, Sayang?” bisiknya mesra. “Inge..” jawabku lirih. Aku tidak berjuang berontak, sebab aku ingat bakal janjiku tadi. Karena aku diam tak berreaksi, maka tangan Sang Kapten kian berani saja menjelajahi dadaku dan menciumi leher serta telingaku. Aku menggelinjang, entah geli atau terangsang, yang tentu sampai usiaku 19 tahun aku belum pernah menikmati sentuhan lelaki. Bukannya tidak ada pria yang naksir padaku, ini sebab sikapku yang tidak inginkan berpacaran. Banyak rekan sekelas yang berjuang mendekatiku, selain cukup cantik, aku pun tergolong pandai, makanya aku mendapat beasiswa. Maka tak heran tidak sedikit lelaki di sekolahku yang berjuang memacariku, namun aku cuek, alias tidak merespon.

“Ooohh.. tidak boleh Kapten.” melulu kata-kata tersebut yang terbit dari mulutku saat pria setengah baya tersebut menyentuh barang yang amat berharga untuk wanita, bulu-bulu lembut yang tumbuh di dekat vaginaku dielusnya dengan lembut, sedangkan handuk yang melekat di tubuhku telah jatuh ke lantai. Dan aku juga tahu bahwa pria ini telah bertelanjang bulat.

Aku menikmati benda kenyal yang mengeras menyentuh pantatku, nafas hangat dan wangi yang mengejar terus menjelajahi punggungku, tangannya yang tadi membelai vaginaku kini meremas-remas kedua payudaraku yang ranum, ini menciptakan dadaku membusung dan mengeras. Aku tak percaya, tangan pria ini seolah berisi magnet, sebab mampu membangunkan gairah yang tak pernah kurasakan seumur hidupku.

“Ooohh.. aahh..” melulu desahan panjang yang bisa kuekspresikan bahwa diriku berada dalam libido yang sungguh-sungguh mengasyikan.
“Inge kau sungguh-sungguh lugu, pegang dong batangku,” kata Kapten Jonny, sambil meraih tanganku dan menempelkannya ke batang zakarnya yang keras namun kenyal.
“Jangan diam saja, remaslah, biar anda sama-sama enak..” ujarnya lagi.

Akhirnya walaupun aku sebelumnya tidak pernah mengerjakan senggama, naluriku seolah menuntun apa yang mesti kuperbuat bilamana bercumbu dengan seorang laki-laki. Akhirnya aku berbalik, kuraih batang kemaluannya kuremas dan kukocok-kocok, hingga kumainkan biji pelirnya yang licin.Sang Kapten mendesah-desah, “Ooohh.. aachh.. enak sekali Sayang, teruskan.. oh teruskan..” seraya matanya terpejam-pejam. Aku jongkok, tanpa ragu kujilat dan kukulum torpedo Sang kapten, sampai tenggelam ke tenggorokanku.

Aku benar-benar menikmatinya seperti merasakan es Jolly kesukaanku di masa-masa kecil dulu. Aku tak peduli erangannya, kusedot, kusedot dan kusedot terus, hingga akhirnya zakar Sang Kapten yang panjangnya nyaris 12 centi tersebut memuncratkan cairan hangat ke mulutku yang mungil. “Aaahh.. aku telah tak powerful Inge,” gumamnya. Betapa nikmatnya cairan spermanya, hingga tak sadar aku sudah menelan berakhir tanpa tersisa, ini menciptakan seolah Sang Kapten tak dapat untuk tegak berdiri. Dia bersandar di dinding kapal lagipula gerakan kapal kini ini telah tak beraturan kadang bergoyang kekiri kadang kekanan.

“Kamu sungguh-sungguh hebat Inge,” puji Kapten Jonny sambil menghirup bibirku.
“Inge tidak boleh kau anggap aku telah kalah, tunggu sebentar..”
Dia bergegas mengarah ke lemari kecil, kemudian mengambil sesuatu dari botol kecil dan menelannya kemudian membuka kulkas dan memungut botol minuman sejenis Kratingdaeng.

“Sini Sayang..” ujar sang kapten memanggilku mesra.
“Istirahat dulu anda sebentar, ambillah minuman di kulkas untukmu,” lanjut Kapten Jonny.
Kubuka kulkas dan kuraih botol kecil laksana yang diminum Kapten Jonny. Aku meminumnya tidak banyak demi sedikit, “Ooohh.. sedap sekali minuman ini.. aku tak pernah menikmati betapa enaknya.. minuman apa ini.” Ternyata label minuman ini tertulis huruf-huruf yang aku tak paham, barangkali aksara China, barangkali Jepang mungkin pun Korea. Ah persetan.. yang urgen tenggorokanku segar.

“Kau berbaringlah di di situ,” pinta Kapten Jonny seraya menunjuk lokasi tidurnya yang ukurannya tidak begitu besar. Kurebahkan tubuhku di atas kasur yang lunak dan membal. Kulihat jam dinding telah menunjuk pukul 12 malam. Aku heran mataku tak merasa ngantuk, padahal seringkali aku telah tidur sebelum pukul 22:00. Aku sengaja tidak memakai selimut guna menutupi tubuhku, kubiarkan begitu saja tubuhku yang polos, mungkin ini akan membangunkan gairah libido Sang Kapten yang tadi telah down. Aku bercita-cita semoga Sang Kapten bakal terangsang menyaksikan dadaku yang sengaja kuremas-remas sendiri.

Sang Kapten telah bangkit dari kursi santainya, dia menenggak sebotol lagi minuman sejenis Kratindaeng. Dia telah berada di ambang ranjang, kini dia mulai mengelus-elus kakiku dari ujung jari merambat ke atas dan berhenti lama-lama di pahaku, mengusap-usap dan menjilatinya, dan kini lidahnya telah berada di mulut vaginaku. “Ooohh.. geli..”

Sejurus lantas lidahnya dijulurkan dan menyapu permukaan bibir vaginaku. Pahaku sengaja kulebarkan, urusan ini menciptakan Sang Kapten meningkat buas dan liar, diseruputnya klitorisku. “Ooohh.. aahh.. teruskan Kapten, lanjutkan Kapten.. Ooohh.. nikmat sekali Kapten..” Tangannya tidak bermukim diam, diraihnya kedua payudaraku, diremasnya dan tak tak sempat memelintir putingku dengan mesra.

“Ooohh.. aku telah tak tahan Kapten..” desisku.
“Tahan Sayang.. tahan sebentar.. biarkan aku merasakan vaginamu yang wangi ini.. aku tak pernah menikmati wanginya vagina dari perempuan lain..”
“Sruupp.. sruupp.. sruupp..” Terus saja mulut Kapten Jonny dengan rajinnya mengembara bagian dalam vaginaku yang telah empot-empotan ini dampak rangsangan yang amat tinggi.

“Sudah Kapten.. lekas masukkan batang zakarmu, aku telah tidak tahan..”
“Baik, rasakanlah Sayang.. alangkah nikmatnya rudalku ini..”
“Tapi pelan-pelan Kapten, aku benar-benar masih perawan..”
“Oke, aku melakukannya dengan hati-hati..” janji Kapten Jonny.
“Buka lebar pahamu, Inge..” saran Kapten Jonny.
Dan..

“Blleess..”
“Ooohh.. aahh..” desisku, sebenarnya zakar tersebut baru masuk tiga perempatnya.
“Bles.. bless..”
“Ooohh..” erangku panjang, aku tahu batang sepanjang 12 centi tersebut sudah merusak selaput daraku.
Ditariknya lagi rudalnya, kemudian dimasukannya lagi seirama dengan goyangan KM.Ciremai oleh ombak laut.

“Bless.. bless.. bless..”
“Ooohh.. oohh.. oohh.. aahh.. aahh..”
“Aku mau terbit Kapten,” ujarku memberi tahu Kapten Jonny.
“Tahan Sayang.. sebentar.. aku juga hendak keluar, kini kita hitung hingga tiga. Satu.. dua.. tiga..”
“Crott.. crott.. crot..” sperma Kapten Jonny mengairi gua gelap vaginaku. Betapa hangat dan nikmatnya air manimu Jonny. Hal ini memancing cairanku ikut memenuhi kemaluanku hingga meluber ke permukaan.

Cerita Sex Akibat Aku Kehilangan Tiket Di Kapal Ciremai – Kami berdua terkulai lemas, namun Kapten Jonny sempat meraba bibir kemaluanku dan jarinya seolah melepaskan sesuatu dari vaginaku, ternyata dia mengindikasikan cairan merah kepadaku, dan ternyata ialah darah perawanku. Dijilatnya darah seraya berkata, “Terima kasih Inge, kamu sungguh-sungguh perawan..” Aku melulu menangis, menangisi kesenangan yang sama sekali tak kusesalkan. Aktivitas senggama ini dilangsungkan kembali hingga matahari muncul. Lantas aku istirahat sampai siang, makan, istirahat dan malamnya kami melakukannya lagi berulang-ulang seolah tiada bosan.

Akhirnya Pelabuhan Tanjung Priok telah berada di pelupuk mataku. Sebelum turun dari kapal aku dibelikan baju baru, dan dibekali dana yang cukup.
Selamat bermukim Kapten.. selamat bermukim Ciremai..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *